.quickedit {display:none;}

Jumat, 16 Mei 2014

Memonitor dan mendata kondisi peralatan



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang PRAKERIN
Sesuai dengan hasil pengamatan dan penelitian Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, pola penyelenggaraan di SMK belum secara tegas dapat menghasilkan lulusan sebagaimana yang diharapkan.Hal tersebut dapat dilihat dari kondisi pembelajaran yang belum kondusif untuk menghasilkan tenaga kerja yang professional, karena keahlian dan teknik bekerja, tetapi harus dilengkapi dengan penguasaan kiat bekerja yang baik.

Praktik Kerja Industri (PRAKERIN) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan baik secara teori maupun praktikum, yang memadukan secara sistematik dan sinkronisasi pendidikan sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung didunia kerja, terarah mencapai suatu keahlian professional  tertentu.

Dalam melaksanakan praktik kerja industri siswa-siswi sekolah menengah kerjuruan SMK GALILEO, dilaksanakan pada setiap semester akhir (kelas 11 naik ke kelas 12), hal ini memberikan jangka waktu yang cukup lama untuk penyusunan buku laporan praktik kerja industri sampai saatnya pada sidang laporan.

Berdasarkan Surat Edaran Direktur Pendidikan Menengah Tinggi (Dekmenti No.4557/C4/01) Tahun 2001 dijelaskan lamanya pelatihan diinstitusi pasangan adalah minimal 1 (satu) bulan dan maksimal 3 (tiga) bulan atau dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan tempat PRAKERIN.








1.2.  Tujuan Praktik Kerja Industri (PRAKERIN)

Maksud diadakan PRAKERIN agar siswa belajar memahami dunia kerja dan mendapatkan dorongan semangat belajar setelah melihat bahwa kerja memerlukan keterampilan dan keahlian yang maksimal.

Tujuan PRAKERIN yaitu:
a.    Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian berkualitas, yaitu tenaga kerja yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan etos kerja yang sesuai di lapangan kerja.
b.    Memperkokoh link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan dunia kerja.
c.    Meningkatkan efesiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang berkualitas.
d.    Memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan.
e.    Mampu mempelajari ilmu di Dunia Industri/Usaha.
f.      Dapat mengembangkan disiplin Ilmu yang selama ini telah diraihnya.
g.    Menambah wawasan dan pengetahuan selama PRAKERIN.
h.    Dapat menyikapi dan memberi motivasi dalam meluruskan cita-cita.
i.      Mampu mempresentasikan disiplin Ilmu sesuai program keahliannya atau sebagai disiplin Ilmu.

1.3.  Waktu Pelaksanaan PRAKERIN

Berdasarkan surat Direktur Pendidikan Menengah Tinggi (Dekmenti No. 4557/C4/01) dijelaskan lamanya pelatihan diInstitusi pasangan adalah minimal 1 (satu) bulan dan maksimal 2 (dua) bulan atau dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan tempat PRAKERIN.

PRAKERIN dapat dilaksanakan apabila telah adanya surat pengajuan PRAKERIN ke Dunia Industri yang selanjutnya ditanggapi dan disanggupi sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan serta telah dikonfirmasikan terlebih dahulu pada pihak sekolah / hubungan Industri




1.4.  Metode Pengambilan data
Pembuatan data yaitu dengan cara mengumpulkan data yang sesuai dengan materi dan mudah dipahami serta dapat dibuktikan kebenarannya. Karena data ini diperoleh dengan cara mengawasi langsung (observasi), serta melalui referensi buku (daftar pustaka), juga diperoleh dari media cetak dan media elektronik.
        
Dari hasil survei menurut Praktisi Industri (pengalaman karyawan), antara lain:
a.    Praktik Langsung
Praktik langsung adalah melakukan Praktik dengan cara langsung pada suatu obyek, serta melalui pembinaan dan bimbingan, baik langsung dari pembimbing atau dari karyawan.
b.    Observasi
Observasi adalah melakukan pengamatan secara langsung terhadap apa yang sedang dihadapi baik dalam perusahaan atau pekerjaan yang sedang dilakukan oleh siswa PRAKERIN.
c.    Wawancara
Wawancara adalah bertanya langsung maupun tidak langsung kepada pembimbing atau kepada karyawan lainnya tentang suatu pekerjaan yang kurang di mengerti.
d.    Studi Pustaka
Studi Pustaka adalah melakukan referensi buku atau daftar pustaka yaitu sebagai sumber data tambahan untuk melengkapi data – data yang kurang lengkap dan dari media elektronik yaitu yang bersumber dari website atau situs di internet yang mendukung penulisan laporan penulis.



                                                   BAB II
PROFIL SEKOLAH DAN INSTANSI PRAKERIN

2.1.  Profil SMK GALILEO
SMK GALILEO berlokasi di Jln. Alvost Rt 06 / 03  Ds. Kadumangu Kec. Babakan Madang Kab.Bogor, Smk swasta yang dinaungi oleh Yayasan Karya Panca Pembaharuan yang didirikan pada tanggal 20 Mei 2005.GALILEO diambil dari kata Gali Ilmu Lebih Optimal.

2.1.1. Sejarah SMK GALILEO (Visi, Misi & Tujuan)
SMK GALILEO didirikan pada tanggal 20 Mei 2005. SMK GALILEO berdiri dibawah naungan Yayasan Karya Panca Pembaharuan mulai mengadakan proses belajar mengajar pada angkatan pertama di tahun ajaran 2005 – 2006. Pada angkatan ketiga di tahun 2007 – 2008 untuk pertama kalinya SMK GALILEO membuka kelas pagi dan siang.Seiring berjalannya waktu, metode belajar mengajar semakin ditata dengan baik dan menyempurnakan yang belum lengkap.Dalam hal ini kurikulum semakin disempurnakan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SPEKTRUM pada tahun 2008, SMK GALILEO kembali lagi membuka program keahlian Teknik Sepeda Motor di tahun ajaran baru 2009 – 2010.Tujuan dari SMK GALILEO adalah mencerdaskan anak bangsa, melahirkan siswa atau siswi yang teladan berpendidikan. SMK GALILEO mempunyai visi & misi yaitu :
Visi :
Berbekal iman dan taqwa demi mencerdaskan anak bangsa yang berkualitas sehingga mampu menjawab tantangan zaman dan perkembangan teknologi.
Misi :
a.    Meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral.
b.    Menghasilkan anak bangsa yang berkualitas, mampu berdikari, mandiri, bertaqwa dan berilmu.
c.    Mencetak generasi yang siap berkarya, mampu bersaing di era globalisasi yang penuh dengan tantangan sesuai dengan Standar Kompetensi nasional.
d.    Melaksanakan kegiatan belajar mengajar dan kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan minat dan bakat untuk meraih prestasi.


2.1.2.  Struktur SMK GALILEO

Kepala Sekolah SMK GALILEO            : Suhariyanto, MM.Pd
Waka. SMK GALILEO                         : Hari Suyitno, MM.Pd
Bendahara                                         : Nining Agustianingsih
Staf Tata Usaha                                  : Kiki Dwi Lesmana
Koordinator KBM                                : 1. Nursiswanto, S.Pd.I
                                                           2. Jariyanto, SE
Waka. Urusan Kurikulum                     : Asmiyati Wahyuningsih, S.Pd.Kim
Waka. Kesiswaan                               : Elin Setiawaty, S.Pd
Waka. Hubungan Industri                    : Hari Suyitno, MM.Pd
Divisi. Hubungan Industri                     : 1. Wigiyanto, SE
                                                            2. Shendy Nuria Feriansyah, S.kom
                                                            3. Sidik, S.Pd.I
                                                            4. Nursiswanto, S.Pd.I
Waka. Urusan Sarana dan Prasarana  : Feralitha Tarigan. S.Pd.Kim
Pembina Osis                                     : 1. Sidik, S.Pd
                                                           2. Jarianto, SE
Kepala Program TKJ                          : Deni Romandono, ST
Kepala Program TPMI                        : Sumidi, ST
Kepala Program KR                           : Marwan S, ST
Kepala Program SPM                        : Wigiyanto, SE
Ka. Bengkel TKR                               : Suharsono
Ka. Bengkel TSPM                            : Abd. Darussalam
Ka. Bengkel TPMI                             : Jariyanto, SE
Ka. Lab. Komputer                                     : Harry Karyono, ST
BP/BK                                                          : Retno Sari, S.Pd.I





2.2.  Profil PT. ARGATAMA MULTI AGUNG
Nama Perusahaan                    : PT. ARGATAMA MULTI AGUNG
Alamat                                     : Jl. Elang No. 03/03 Kp.Sangkali Ds.Sukahati
                                                 Kec.Citeureup – Bogor
Email                                       : argatama.multiagung@gmail.com
Berdiri/didirikan                        : 02 Januari 2008
Modal                                       : $ 1.500.000

2.2.1.  Sejarah PT. ARGATAMA MULTI AGUNG
(Visi, misi dan Manajemen)
PT. Argatama Multi Agung memproduksi :
a.      Komponen Otomotif
b.      Lembaran Logam dan Alat Tekan
c.      Teknik Umum
d.      Loka Karya dan Pemeliharaan

Pada tahun 2008 bulan januari, PT. ARGATAMA MULTI AGUNG. Berlokasi di Bekasi. Pada tahun 2009 bulan Januari, kami bekerja sama dengan Sharp Electronics Indonesia untuk membuat komponen elektronik. Di bulan Agustus kami bekerjasama dengan PT. Indokarlo Perkasa membuat komponen otomotif. Di bulan November kami bekerja sama dengan PT. Tridaya Dimas Adiatamafor Automotif Part.

Di tahun 2010 bulan Januari kami bekerja sama dengan PT. Citra Plasindo Indonesia memproduksi komponen kendaraan. Di tahun 2011 bulan Februari kami bekerjasama dengan PT. Dharma Polypast memproduksi sparepartelectronics.Di bulan September kami beroperasi di lokasi baru yang berlokasi di Citeureup, Bogor. Di bulan Oktober mendapatkan sertifikat dari ISO 9001 : 2008.

Di tahun 2013 bulan Januari kami bekerja sama dengan PT. Meiwa Indonesia. Di bulan Februari bekerjasama dengan PT. Frina Lestari Nusantara.







2.2.2.  Struktur Organisasi PT. ARGATAMA MULTI AGUNG
Direktur Utama              : Agus Rusnawan
Plant Manager               : Emul Purnawan
HRD GA                        : Bagja Wiwaha
Marketing                      : Asep
Engineering                  : Rudi Hidayat
PPIC                            : Emul Purnawan
Produksi                       : Dadan Iskandar
Turet                            : Edi Suprianto
Welding                       : Tatang. S
Assembling                  : Aceng H.

2.2.3.  Kegiatan Perusahaan
PT. ARGATAMA MULTI AGUNG sebagai perusahaan industri stamping, produksi spare partotomotifdan elektronik bertujuan menjadi yang terbaik dibidangnya dengan memproduksi, mendistribusikan komponen yang bermutu, menjamin kepuasan pelanggan serta pelayanan prima.



BAB III
KEGIATAN SELAMA PRAKERIN
QUALITY CONTROL

3.1.  Jenis Kegiatan PRAKERIN
Selama melaksanakan kegiatan Praktik Kerja Industri (PRAKERIN) di PT. ARGATAMA MULTI AGUNG selama dua bulan mulai dari tanggal 04 April 2013 sampai dengan 04 Juni 2013, banyak hal baru bagi siswa untuk dijadikan sebuah ilmu. Setelah melaksanakan kegiatan sebagai berikut :
a.        5S (seiri,seiton,seiso,seiketsu,seitsuke)
b.        Mengecek Bar Seat Lock
c.        Mengecek Hinge seat

3.2. Pembahasan PRAKERIN
a.        5S (seiri,seiton,seiso,seiketsu,seitsuke)











Gambar 3.1. Pola 5S
5S adalah suatu metode penataan dan pemeliharaan wilayah kerja secara intensif yang berasal dari Jepang yang digunakan oleh manajemen dalam usaha memelihara ketertiban, efisiensi, dan disiplin di lokasi kerja sekaligus meningkatan kinerja perusahaan secara menyeluruh.Penerapan 5S umumnya diberlakukan bersamaan dengan penerapan kaizen agar dapat mendorong efektivitas pelaksanaan 5S.Di Indonesiametode ini dikenal dengan istilah 5R, sedangkan di Amerika dan Eropa dikenal dengan 5C.
Isi dari 5S antara lain :                                                  
1.        整理 (seiri), Ringkas, merupakan kegiatan menyingkirkan barang-barang yang tidak diperlukan sehingga segala barang yang ada di lokasi kerja hanya barang yang benar-benar dibutuhkan dalam aktivitas kerja.
2.        整頓 (seiton), Rapi, segala sesuatu harus diletakkan sesuai posisi yang ditetapkan sehingga siap digunakan pada saat diperlukan.
3.        清楚 (seiso), Resik, merupakan kegiatan membersihkan peralatan dan daerah kerja sehingga segala peralatan kerja tetap terjaga dalam kondisi yang baik.
4.        清潔 (seiketsu), Rawat, merupakan kegiatan menjaga kebersihan pribadi sekaligus mematuhi ketiga tahap sebelumnya.
5.        躾け (shitsuke), Rajin, yaitu pemeliharaan kedisiplinan pribadi masing-masing pekerja dalam menjalankan seluruh tahap 5S.
Penerapan 5S harus dilaksanakan secara bertahap sesuai urutannya. Jika tahap pertama (seiri) tidak dilakukan dengan baik, maka tahap berikutnya pun tidak akan dapat dijalankan secara maksimal, dan seterusnya.

c.      Mengecek Bar Seat Lock









Gambar 3.2. Bar seat lock
Bar Seat Lock adalah dudukan Jok untuk Motor. Untuk Mengecek Bar Seat Lock harus menggunakan Jig dan Flat. Jig dan Flatini biasanya berbentuk Kotak dengan lubang di tengah, supaya Bar Seat Lock bisa masuk dan sekaligus bisa di check.

d.      Mengecek Hinge Seat
Hinge adalah dudukan Jok Motor. Sama halnya dengan Bar Seat Lock, Hinge Seat ini perlu alat khusus untuk mengeceknya. Alat tersebut adalah Jig, Jig ini berbeda dengan jig yang di gunakan untuk mengecek bar seat lock. Jig yang di gunakan untuk Hinge seat ini memiliki Pinset untuk mengecek lubang diameter hinge seat.


3.3.  Pembahasan
Dari keterangan diatas dapat dijelaskan bahwa kegiatan selama PRAKERIN di PT. ARGATAMA MULTI AGUNG ini adalah penulis mendapat pengalaman yang lebih, terutama di bagian QUALTY CONTROL.

Dalam hal ini banyak sekali hal yang harus diperbaiki, baik dari kepribadian maupun dari segi pengetahuan.Maka dari itu penulis harus benar-benar menerapkan kepribadian yang penuh disiplin, taat pada aturan baik aturan yang tertulis ataupun tidak tertulis. Ilmu yang penulis dapatkan dari PRAKERIN ini sangat membantu, karena masih banyak yang belum diketahui tentang PO, karena setiap proses pengerjaan permasalahannya selalu berbeda.

Dengan adanya PRAKERIN mudah-mudahan dapat menjadi suatu gerakan terhadap anak bangsa, karena bangsa Indonesia sedang terpuruk, rakyat miskin tidak berkurang malah semakin bertambah, setiap tahun pengangguran terus melonjak ke level di bawah garis standar.

Semoga permasalahan yang sekarang kita hadapi dapat terselesaikan, dengan melahirkan anak bangsa yang cerdas serta berwawasan luas juga cinta dan peduli sesama manusia dengan adanya Sekolah Menengah Kejuruan yang dapat melahirkan para wirausahawan yang dapat menolong ekonomi rakyat Indonesia.

3.4.  Manfaat Bagi Siswa
Adapun manfaat yang didapat dari hasil PRAKERIN antara lain :
a.        Siswa atau siswi dapat mengetahui bagaimana keadaan di dunia industri yang penuh dengan aturan. Karena itu akan membawa kebiasaan yang baik untuk diterapkan di lingkungan masyarakat ataupun di dunia kerja.
b.        Menambah wawasan terhadap peserta PRAKERIN untuk melengkapi kekurangan, karena tidak semua sekolah mempunyai fasilitas praktik yang cukup lengkap dan staf pengajar yang memenuhi standar pendidikan untuk SMK.
c.        Dapat merubah pola pikir yang dapat membawa hidup untuk sukses di masa depan.
d.        Memperkuat mental seorang calon pendiri usaha karena seorang kewirausahawan harus mempunyai mental yang kuat dan penuh percaya diri terhadap usaha yang akan dijalankannya. Ini didapatkan dari PRAKERIN.
e.        Mengetahui bagaimana cara bersosialisasi dengan karyawan dan staf yang lainnya.
BAB IV
UJI KOMPETENSI
MEMONITOR DAN MENDATA KONDISI PERALATAN


4.1. Memonitor dan Mendata Kondisi Peralatan
  Memonitor dan mendata kondisi peralatan biasanya disebut dengan Prefentive Maintenance. Adapun pengertian dari Prefentive Maintenance itu sendiri sebagai berikut.
NO.
NAMA BARANG
KONDISI ALAT
KETERANGAN
(Gambar)
1.
Jangka Sorong


Baik
2.
Mikrometer Sekrup


Baik
3.
Mall Ulir



Baik
4.
Bevel Protector


Baik

Gambar 4.1. Contoh Pengecekan dan Pendataan kondisi peralatan

4.1.1.  Pengertian Prefentive Maintenance
Preventive maintenance adalah suatu pengamatan secara sistematik disertai analisis teknis-ekonomis untuk menjamin berfungsinya suatu peralatan produksi dan memperpanjang umur peralatan yang bersangkutan.Tujuan preventive maintenanceadalah untuk dapat mencapai suatu tingkat pemeliharaan terhadap semua peralatan produksi agar diperoleh suatu kualitas produk yang optimum. Adapun kegiatan Preventive Maintenance meliputi:
1.        Inspeksi (inspection), adalah kegiatan pemeliharaan periodik untuk memeriksa kondisi komponen peralatan peralatan produksi dan area sekitar peralatan produksi. Lihat, rasa, dengar, adalah kegiatan pemeliharaan untuk memeriksa kondisi peralatan melalui penglihatan, perasaan dan pendengaran.
2.        Pemeliharaan berjalan (running maintenance), adalah kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan tanpa mengehentikan kerja peralatan.
3.        Penggantian komponen kecil (small repair), adalah kegiatan pemeliharaan yang berupa penggantian komponen kecil.
4.        Pemeliharaan berhenti (shutdown maintenance), adalah pemeliharaan yang dapat dilakukan hanya pada saat peralatan produksi berhenti.






Gambar  4.2. Pola Maintenance
Dengan memanfaatkan prosedur maintenance yang baik, dimana terjadi koordinasi yang baik antara bagian produksi dan maintenance maka akan diperoleh:

a.      Kuantitas Stop peralatan produksi dapat dikurangi (down time peralatan produksi diperkecil)
b.      Biaya perbaikan yang mahal dapat di kurangi
c.      Interupsi terhadap jadwal yang direncakan waktu produsi maupun pemeliharaan dapat dihilangkan atau dikurangi
Salah satu dari tujuan Preventive Maintenanceadalah untuk menemukan suatu tingkat keadaan yang menunjukan gejala kerusakan sebelum alat-alat tersebut mengalami kerusakan fatal. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan membuat perencanaan dan penjadwalan kegiatan maintenance dengan interupsi sekecil mungkin terhadap proses produksi.
Pada dasarnya tidak cukup hanya dengan membuat perencanaan penjadwalan (scheduled maintenance) yang matang akan tetapi perlu diperhatikan usaha-usaha untuk memusatkan perhatian pada unit-unit peralatan produksi yang dianggap rawan dan kritis. Suatu kualifikasi terhadap unit yang rawan didasarkan pada:
1.      Kerusakan pada unit tersebut dapat membahayakan kesehatan atau keselamatan kerja.
2.      Kerusakan dapat mempengaruhi jalannya proses produksi dan kualitas produk.
3.      Kerusakan dapat menyebabkan proses produksi terhenti.
4.      Modal yang tertanam pada unit tersebut dinilai cukup tinggi.
Untuk memelihara atau memeriksa seluruh unit secara ketat dan teratur hanya sekedar menghilangkan kemungkinan kerusakan pada peralatan produksi adalah suatu usaha yang tidak praktis karena memerlukan manusia-manusia dengan persyaratan tinggi dan biaya yang tidak sedikit.Akibat bentuk dan saat terjadinya gangguan sangat sulit untuk diperkirakan secara dini, maka pemeliharaan perlu dilakukan secara teratur dan periodik dari waktu ke waktu terhadap semua unit instalasi. Untuk melakukan hal tersebut maka dibutuhkan usaha-usaha pemeliharaan yang antara lain meliputi :
1.      Pemeliharaan rutin
2.      Pemeliharaan (sifatnya perbaikan) kecil/medium
3.      Bongkar seluruhnya (overhaul)
Pemeliharaan rutin adalah usaha pemeliharaan terhadap unit-unit instalasi yang dilakukan secara rutin dan periodik dengan interval waktu pelaksanaan yang tetap dan singkat.
Jenis pekerjaan yang termasuk dalam pemeliharaan rutin pada dasarnya adalah usaha pemeliharaan yang dilakukan tanpa melelui proses pembongkaran. Bentuk pekerjaan dalam pemeliharaan rutin antara lain adalah:
a.     Inspeksi rutin adalah merupakan peninjauan secara visual terhadap kondisi fisik komponen dari unit instalasi peralatan produksi.Pekerjaan ini biasanya dilakukan secara rutin setiap satu hari sampai satu minggu sekali, tergantung kebutuhan.
b.     Pengetesan rutin, merupakan usaha untuk mengatur atau memantau kondisi kerja suatu komponen sacara rutin agar komponen dapat diusahakan untuk beroperasi pada kondisi normal.
Kegiatan-kegiatan yang umum dilakukan dalam pemeliharaan rutin misalnya :
a.       Memeriksa fungsi dari mekanisme komponen
b.       Memeriksa dan menyetel (adjustment)
c.       Membersihkan
d.       Mengencangkan bagian-bagian yang kendur
Pemeliharaan kecil/medium adalah usaha perbaikan-perbaikan ringan terhadap gejala gangguan yang berhasil terdeteksi selama pemeriksaan rutin. Perbaikan ringan sangat penting peranannya dalam mencapai tingkat keberhasilan proses pemeliharaan yang dilakukan terhadap suatu komponen unit instalasi.
Kegiatan Overhaul pada mesin biasanya dilakukan secara periodik dan sangat teratur serta mempunyai konsentrasi dan perhatian yang lebih dibanding pemeriksaan rutin dan pemeliharaan kecil.Pada kegiatan ini dilakukan pembongkaran mesin untuk mengecek kondisi komponen mesin secara menyeluruh dimana dimaksudkan untuk mengetahui kemungkinan kerusakan yang terjadi pada mesin yang tidak dapat diketahui hanya dengan pemeriksaan rutin. Contoh kegiatan seperti ini misalnya pada penggantian batu tahan api di tanur/kiln pabrik semen.

Disamping dilakukan pemeliharaan dengan perencanaan dan penjadwalan yang matang, didalampreventive maintenance dikenal pula kegiatan yang sering disebut dengan pemeliharaan prediktif (predictive maintenance) yang dapat diartikan sebagai strategi pemeliharaan dimana pelaksanaannya didasarkan pada kondisi peralatan produksi itu sendiri

            Mengingat tingkat kepastian 100% tidak pernah ada maka orang lebih suka menggunakan istilah prediksi atau perkiraan untuk memastikan pendapatnya.Dalam menduga-duga inipun pada dasarnya dibutuhkan dukungan data dan pengetahuan yang cukup mendalam tentang perilaku dari peralatan produksi yang diamati.

Beberapa contoh dukungan pengetahuan yang diperlukan untuk mengantisipasi keadaan ini antara lain :

a.       Penguasaan prinsip kerja alat yang bersangkutan.
b.       Penguasaan karakteristik alat.
c.       Pengalaman pengoperasian alat yang sama di masa lalu baik oleh diri sendiri maupun orang lain.
d.       Penguasaan dan pengambilan data yang tepat.
e.       Penguasaan pengolahan data.
f.        Kemampuan mengkorelasikan antara satu kejadian dengan kejadian lain dalam kaitannya dengan bidang maintenance.
g.       Berwawasan luas dalam bidang peralatan produksi kaitannya dengan kemajuan teknologi.

Seperti telah diketahui, preventive maintenanceberfungsi menangani langsung hal-hal yang bersifat mencegah terjadinya kerusakan pada fasilitas-fasilitas yang dilakukan dengan jalan memeriksa alat/fasilitas secara teratur dan berkala serta memperbaiki kerusakan kecil yang dijumpai selama pemeriksaan.Bagaimanapun baiknya kondisi suatu peralatan produksi yang telah direncanakan, keausan dan kerusakan selama pemakaian pada umumnya masih dapat terjadi, namun demikian laju keausan dan kerusakan ini masih dapat diperkirakan besarnya bila peralatan produksi/alat dipakai dalam kondisi normal.
     Khususnya dalam bidang peralatan listrik dan elektronika sering diperingatkan bahwa kerusakan-kerusakan komponen listrik adalah bahaya yang selalu mangancam sehingga tidak ada alat/instrument yang dapat memeriksa dan mengukur terhadap kerusakan komponen secara detail.Yang umum dilakukan dalam Praktik, contohnya adalah mengganti semua bola lampu listrik dalam waktu tertentu, jadi tidak menggantinya satu persatu setelah bola lampu tersebut padam. Hal yang sama juga pada dilakukan pada menggantian bearing pada peralatan produksi.
      Contoh diatas adalah contoh kasus dari pendekatan predictive maintenance.Predictive maintenance juga merupakan suatu teknik yang banyak dipakai dalam cara produksi berantai dimana bila ada gangguan darurat sedikit saja pada sistem produksi tersebut akan mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Seperti misalnya sistem produksi dengan sistem inline process, apabila proses produksi tersebut terhenti karena kerusakan yang terjadi pada inline process tersebut maka dapat dibayangkan kegagalan produksi yang terjadi.

 





Gambar 4.4.Pola Planned Maintenance
Jadi Predictive maintenance adalah merupakan bentuk baru dari Planned Maintenance dimana penggantian komponen/suku cadang dilakukan lebih awal dari waktu terjadinya kerusakan. Untuk membantu melaksanakan predictive maintenanceterdapat suatu diagram analisa predictive yang sering digunakan yang mengacu pada kondisi peralatan produksi besangkutan. Diagram analisa ini sering dikenal dengan instilah Bath Tube Curve karena grafik yang dihasilkan yang menyerupai bak mandi.


 








Gambar 4.4. Diagram Analisa Predictive

      Pada diagram analisa tersebut dibagi menjadi 3 phase lifetime dari suatu peralatan produksi. PhaseI atau sering juga disebut dengan early failure karena pada phase ini peralatan produksi dalam kondisi running in/masih baru (penyesuaian) dan pertama kali dioperasikan maka permukaan kerja (working surface) dari peralatan produksi masih kasar.Pada kondisi ini terdapat proses penghalusan permukaan tersebut karena terjadinya kontak kerja permukaan. Setelah melewati phase ini, karena permukaan bidang kerja sudah halus maka tingkat kontak kerja permukaan juga sudah menurun karena permukaan kerja peralatan produksi sudah pada kondisi stabil. Phase II ini dikenal sebagai useful life-period. Pada periode inilah yang akan menentukan umur peralatan produksi sebenarnya. Karena permukaan bidang kerja mempunyai lapisan kekerasan dengan ketebalan yang terbatas maka bila lapisan keras ini sudah habis terkikis maka laju keausan/kerusakan akan meningkat kembali.
Hal ini akan berlangsung selama phase III yang dikenal sebagai periode keausan cepat (wearing out period).
Pada contoh kasus penggantian bearing peralatan produksi, dengan mengacu pada diagram analisa predictive tersebut maka penggantian sebaiknya dilakukan sebelum phase III atau menjelang phase II berakhir dengan demikian kondisi bearing tidak sampai rusak parah sehingga kerusakan pada peralatan produksi yang fatal akibat hancurnya bearing dapat dihindari dan tidak merambat pada komponen yang lain sehingga terhentinya proses produksi yang lama dapat dicegah.
Dalam predictive maintenance terdapat beberapa metode dalam mamantau atau monitoring kondisi dari suatu peralatan produksi, antara lain :
1.      Monitoring minyak pelumas Dengan cara mengambil sample oli dari peralatan produksi untuk mengecek kekentalannya atau melihat kuantitas oli yang masih tersimpan di tangki oli sesuai dengan anjuran dari manual book mesin merupakan cara-cara untuk monitoring minyak pelumas.
2.      Monitoring Visual Metode ini menggunakan panca indera yang meliputi lihat, rasa, dengar guna mengetahui kondisi mesin. Untuk lebih akurat bisanya digunakan alat Bantu.
3.      Monitoring kinerja Merupakan teknik monitoring kondisi peralatan produksi dengan cara memeriksa dan mengukur parameter kinerja dan kemudian dibandingkan dengan standarnya.
4.      Monitoring Geometris Diharapkan penyimpangan geometris yang terjadi pada peralatan produksi dapat diketahui dan kemudian dilakukan kegiatan meliputi pengukuran leveling dan pengukuran posisi (alignment).
5.      Monitoring getaran Monitoring ini memeriksa dan mengukur letak getaran secara rutin dan terus menerus sehingga getaran yang akan mengakibatkan kerusakan peralatan produksi lebih lanjut dapat dicegah.

4.1.2.  Historical record pada Preventive maintenance

            Pencatatan riwayat peralatan produksi yang dirawat perlu dilakukan untuk memantau perkembangan dan kondisi peralatan produksi dari waktu ke waktu. Adapun tujuan pencatatan riwayat peralatan produksi secara umum adalah :
1.      Preventive maintenance dengan historical record yang baik akan menghasilkan kerja yang lebih efektif karena kondisi peralatan produksi dapat termonitor.
2.      Bila menggunakan metode inspeksi dengan program-program yang ketat akan mengasilkan hasil yang baik dengan biaya relative cukup murah dibandingkan dengan nilai perbaikan dari sebuah kerusakan yang terjadi.
3.      Siklus Overhaul peralatan produksi dapat diprakirakan dengan baik bila data historical record diperoleh dengan lengkap.
4.      Usaha untuk memperpanjang siklus overhaulakan berhasil bila data dari historical record lebih ketat.
5.      Makin akurat penentuan diagnosis kerusakan pada peralatan produksi maka biaya preventive maintenance semakin ekonomik.

4.1.3.  Keuntungan dan Kerugian Preventive maintenance

Keuntungan dari preventive maintenance antara lain :
1.      Preventive maintenance bersifat antisipasif, oleh karenanya bagian produksi maupun bagian maintenance seharusnya dapat melakukan prakiraan dan penjadwalan produksi yang baik.
2.      Preventive maintenance dapat meminimumkan waktu berhentinya peralatan produksi (down time).
3.      Preventive maintenance dapat meningkatkan mutu pengendalian suku cadang.
4.      Preventive maintenance dapat menurunkan tingkat kegiatan pekerjaan yang bersifat darurat.
      Kerugian dari Preventive maintenance adalah dapat terjadi pemborosan suku cadang bila penggantian suku-suku cadang dilakukan sebelum rusak.

Dari berhasilnya program preventive maintenance yang baik maka perlu dikembangkan hal-hal sebagai berikut :
1.      Suatu paket pencatatan (historical record) data maintenance yang baik.
2.      Adanya pengertian yang saling menunjang antara bagian produksi dan bagian maintenance.
3.      Para teknisi maintenance menunjukkan kemampuannya sebagai pekerja yang baik.
4.      Memiliki program inspeksi yang baik.
5.      Memiliki program perbaikan yang korektif.
6.      Preventive maintenance memiliki sistem administrasi yang baik.


















BAB V
PENUTUP

5.1.  Kesimpulan

5.1.1.  Kesimpulan PRAKERIN di PT. ARGATAMA MULTI AGUNG

      Hasil Praktik kerja industri selama dua bulan di PT. ARGATAMA MULTI AGUNG. Penulis dapat menarik kesimpulan bahwa Praktik kerja industri ini merupakan suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian professional yang memadukan secara sistematik antara program keahlian pendidikan di sekolah dengan program keahlian yang diperoleh melalui kegiatan langsung di dunia kerja. Adapun tujuan diadakannya Praktik kerja industri ini adalah untuk menambah wawasan para siswa agar mempunyai pengalaman bekerja di dunia industri.
           
            Isi dalam laporan ini disajikan sesuai dengan kegiatan yang penulis telah laksanakan di PT. ARGATAMA MULTI AGUNG.Sesuai dengan namanya ini merupakan industri yang bergerak di bidang otomotif.

            Dengan itu penulis mendapatkan pengalaman yang sangat berharga di bidang Quality Control. Sehingga pengalaman tersebut bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk menyiasati persaingan yang ketat di dunia industri.
           
            Kesan dari penulis dalam melaksanakan kegiatan PRAKERIN di PT. ARGATAMA MULTI AGUNG selama dua bulan adalah :
1.      Siswa – siswi SMK GALILEO disambut dan dibimbing dengan baik oleh PT. ARGATAMA MULTI AGUNG. Kondisi bangunan yang bersih memberikan kenyamanan bagi penulis dalam melaksanakan kegiatan PRAKERIN.
2.      Keakraban siswa – siswi SMK GALILEO dengan karyawan dan staf pegawai di PT. ARGATAMA MULTI AGUNG dapat mengurangi rasa jenuh.
3.      Ketepatan waktu kerja dapat melatih kedisiplinan terutama bagi penulis sendiri.
4.      Keamanan kerja selalu diperhatikan oleh pihak PT. ARGATAMA MULTI AGUNG






5.1.2.  Kesimpulan Uji Kompetensi

      Dasar kompetensi sekaligus memahami maksud dan kegunaan kompetensi tersebut.Dengan itu penulis mendapatkan pengalaman yang sangat berharga.Sehingga pengalaman tersebut bisa dijadikan bahan pembelajaran untuk menyiasati persaingan yang ketat di dunia usaha/industri karena perkembangan teknologi yang sangat pesat dan kebutuhan di dunia usaha/industri dengan adanya uji kompetensi diharapkan siswa mempunyai pengetahuan yang lebih tentang kompetensi yang didapatnya.

5.1.3.  Saran dan Kritik

Saran yang penulis sampaikan kepada PT. ARGATAMA MULTI AGUNG diantaranya adalah :
1.      Pihak perusahaan harus lebih baik lagi dalam memberikan pelayanan kepada konsumen
2.      Disiplin karyawan lebih baik diperhatikan agar tidak pernah menurun.
3.      Kebersihan area harus diperhatikan juga karena merupakan cermin kerapian dan kenyamanan perusahaan.



DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2000. Kesehatan dan keselamatan kerja, bogor:Yudistira         

Anonim. 2004. Garansi Dan Servis. Yogyakarta: Sumber Baru Motor

http://maintenance-group.blogspot.com/2010/09/preventive-maintenance_27.html
Diunggah pada 13 Mei 2014, 17.00 WIB

http://en.wikipedia.org/wiki/5S_%28methodology%29
Diunggah pada 13 Mei 2014, 17.00 WIB

http://en.wikipedia.org/wiki/Bar_Seat_Lock_lock
Diunggah pada 13 Mei 2014, 17.00 WIB








 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar