BAB
I
PENDAHULUAN
Sesuai
dengan hasil pengamatan dan penelitian Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan,
pola penyelenggaraan di SMK belum secara tegas dapat menghasilkan lulusan
sebagaimana yang diharapkan.Hal tersebut dapat dilihat dari kondisi
pembelajaran yang belum kondusif untuk menghasilkan tenaga kerja yang
professional, karena keahlian dan teknik bekerja, tetapi harus dilengkapi
dengan penguasaan kiat bekerja yang baik.
Praktik Kerja Industri (PRAKERIN) di Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan baik secara teori
maupun praktikum, yang memadukan secara sistematik dan sinkronisasi pendidikan
sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja
langsung didunia kerja, terarah mencapai suatu keahlian professional tertentu.
Dalam
melaksanakan praktik kerja industri siswa-siswi sekolah menengah kerjuruan SMK GALILEO, dilaksanakan pada setiap
semester akhir (kelas 11 naik ke kelas 12), hal ini memberikan jangka waktu
yang cukup lama untuk penyusunan buku laporan praktik kerja industri sampai
saatnya pada sidang laporan.
Berdasarkan Surat Edaran Direktur Pendidikan Menengah
Tinggi (Dekmenti No.4557/C4/01) Tahun 2001 dijelaskan lamanya pelatihan
diinstitusi pasangan adalah minimal 1 (satu) bulan dan maksimal 3 (tiga) bulan
atau dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan tempat PRAKERIN.
1.2. Tujuan Praktik Kerja Industri (PRAKERIN)
Maksud diadakan PRAKERIN
agar siswa belajar memahami dunia kerja dan mendapatkan dorongan semangat
belajar setelah melihat bahwa kerja memerlukan keterampilan dan keahlian yang
maksimal.
Tujuan PRAKERIN yaitu:
a.
Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian
berkualitas, yaitu tenaga kerja yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan
etos kerja yang sesuai di lapangan kerja.
b.
Memperkokoh link
and match antara Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) dengan dunia kerja.
c.
Meningkatkan efesiensi proses pendidikan dan pelatihan
tenaga kerja yang berkualitas.
d.
Memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman
kerja sebagai bagian dari proses pendidikan.
e.
Mampu mempelajari ilmu di Dunia Industri/Usaha.
f.
Dapat mengembangkan disiplin Ilmu yang selama ini telah
diraihnya.
g.
Menambah wawasan dan pengetahuan selama PRAKERIN.
h.
Dapat menyikapi dan memberi motivasi dalam meluruskan
cita-cita.
i.
Mampu mempresentasikan disiplin Ilmu sesuai program
keahliannya atau sebagai disiplin Ilmu.
1.3. Waktu Pelaksanaan PRAKERIN
Berdasarkan surat
Direktur Pendidikan Menengah Tinggi (Dekmenti No. 4557/C4/01) dijelaskan
lamanya pelatihan diInstitusi pasangan adalah minimal 1 (satu) bulan dan
maksimal 2 (dua) bulan atau dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan
tempat PRAKERIN.
PRAKERIN dapat
dilaksanakan apabila telah adanya surat pengajuan PRAKERIN ke Dunia Industri
yang selanjutnya ditanggapi dan disanggupi sesuai dengan jadwal yang telah
ditetapkan serta telah dikonfirmasikan terlebih dahulu pada pihak sekolah /
hubungan Industri
1.4. Metode Pengambilan data
Pembuatan data yaitu dengan cara
mengumpulkan data yang sesuai dengan materi dan mudah dipahami serta dapat
dibuktikan kebenarannya. Karena data ini diperoleh dengan cara mengawasi
langsung (observasi), serta melalui referensi buku (daftar pustaka), juga
diperoleh dari media cetak dan media elektronik.
Dari
hasil survei menurut Praktisi Industri (pengalaman karyawan), antara lain:
a.
Praktik
Langsung
Praktik
langsung adalah melakukan Praktik dengan cara langsung pada suatu obyek, serta
melalui pembinaan dan bimbingan, baik langsung dari pembimbing atau dari
karyawan.
b.
Observasi
Observasi
adalah melakukan pengamatan secara langsung terhadap apa yang sedang dihadapi
baik dalam perusahaan atau pekerjaan yang sedang dilakukan oleh siswa PRAKERIN.
c.
Wawancara
Wawancara
adalah bertanya langsung maupun tidak langsung kepada pembimbing atau kepada
karyawan lainnya tentang suatu pekerjaan yang kurang di mengerti.
d.
Studi
Pustaka
Studi
Pustaka adalah melakukan referensi buku atau daftar pustaka yaitu sebagai
sumber data tambahan untuk melengkapi data – data yang kurang lengkap dan dari
media elektronik yaitu yang bersumber dari website
atau situs di internet yang mendukung penulisan laporan penulis.
BAB
II
PROFIL SEKOLAH DAN INSTANSI PRAKERIN
2.1. Profil SMK GALILEO
SMK
GALILEO berlokasi di Jln. Alvost Rt 06 / 03
Ds. Kadumangu Kec. Babakan Madang Kab.Bogor, Smk swasta yang dinaungi
oleh Yayasan Karya Panca Pembaharuan yang didirikan pada tanggal 20 Mei 2005.GALILEO diambil dari kata Gali Ilmu
Lebih Optimal.
2.1.1. Sejarah SMK GALILEO (Visi, Misi & Tujuan)
SMK GALILEO didirikan pada tanggal 20
Mei 2005. SMK GALILEO berdiri dibawah naungan Yayasan Karya Panca Pembaharuan
mulai mengadakan proses belajar mengajar pada angkatan pertama di tahun ajaran
2005 – 2006. Pada angkatan ketiga di tahun 2007 – 2008 untuk pertama kalinya
SMK GALILEO membuka kelas pagi dan siang.Seiring berjalannya waktu, metode
belajar mengajar semakin ditata dengan baik dan menyempurnakan yang belum
lengkap.Dalam hal ini kurikulum semakin disempurnakan dengan Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) SPEKTRUM pada tahun 2008, SMK GALILEO kembali lagi
membuka program keahlian Teknik Sepeda Motor di tahun ajaran baru 2009 –
2010.Tujuan dari SMK GALILEO adalah mencerdaskan anak bangsa, melahirkan siswa
atau siswi yang teladan berpendidikan. SMK GALILEO mempunyai visi & misi
yaitu :
Visi :
Berbekal iman dan taqwa demi mencerdaskan anak bangsa
yang berkualitas sehingga mampu menjawab tantangan zaman dan perkembangan
teknologi.
Misi :
a.
Meningkatkan
kualitas dan kuantitas pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian
yang bermoral.
b.
Menghasilkan
anak bangsa yang berkualitas, mampu berdikari, mandiri, bertaqwa dan berilmu.
c.
Mencetak
generasi yang siap berkarya, mampu bersaing di era globalisasi yang penuh
dengan tantangan sesuai dengan Standar Kompetensi nasional.
d.
Melaksanakan
kegiatan belajar mengajar dan kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan
minat dan bakat untuk meraih prestasi.
2.1.2. Struktur
SMK GALILEO
Kepala Sekolah SMK
GALILEO : Suhariyanto, MM.Pd
Waka. SMK GALILEO : Hari Suyitno, MM.Pd
Bendahara : Nining Agustianingsih
Staf Tata Usaha :
Kiki Dwi Lesmana
Koordinator KBM :
1. Nursiswanto, S.Pd.I
2. Jariyanto, SE
Waka. Urusan Kurikulum :
Asmiyati Wahyuningsih, S.Pd.Kim
Waka. Kesiswaan : Elin Setiawaty, S.Pd
Waka. Hubungan Industri : Hari Suyitno,
MM.Pd
Divisi. Hubungan Industri : 1. Wigiyanto,
SE
2. Shendy Nuria Feriansyah, S.kom
3. Sidik, S.Pd.I
4. Nursiswanto, S.Pd.I
Waka.
Urusan Sarana dan Prasarana :
Feralitha Tarigan. S.Pd.Kim
Pembina
Osis :
1. Sidik, S.Pd
2. Jarianto, SE
Kepala
Program TKJ : Deni Romandono, ST
Kepala
Program TPMI :
Sumidi, ST
Kepala
Program KR :
Marwan S, ST
Kepala
Program SPM :
Wigiyanto, SE
Ka.
Bengkel TKR : Suharsono
Ka.
Bengkel TSPM : Abd. Darussalam
Ka.
Bengkel TPMI : Jariyanto, SE
Ka. Lab. Komputer : Harry Karyono, ST
BP/BK :
Retno Sari, S.Pd.I
2.2. Profil
PT. ARGATAMA MULTI AGUNG
Nama
Perusahaan : PT. ARGATAMA
MULTI AGUNG
Alamat : Jl. Elang No. 03/03 Kp.Sangkali Ds.Sukahati
Kec.Citeureup
– Bogor
Email : argatama.multiagung@gmail.com
Berdiri/didirikan : 02 Januari 2008
Modal : $
1.500.000
2.2.1. Sejarah
PT. ARGATAMA MULTI AGUNG
(Visi,
misi dan Manajemen)
PT.
Argatama Multi Agung memproduksi :
a.
Komponen
Otomotif
b.
Lembaran
Logam dan Alat Tekan
c.
Teknik
Umum
d.
Loka
Karya dan Pemeliharaan
Pada
tahun 2008 bulan januari, PT. ARGATAMA MULTI AGUNG. Berlokasi di Bekasi. Pada
tahun 2009 bulan Januari, kami bekerja sama dengan Sharp Electronics Indonesia
untuk membuat komponen elektronik. Di bulan Agustus kami bekerjasama dengan PT.
Indokarlo Perkasa membuat komponen otomotif. Di bulan November kami bekerja
sama dengan PT. Tridaya Dimas Adiatamafor Automotif Part.
Di
tahun 2010 bulan Januari kami bekerja sama dengan PT. Citra Plasindo Indonesia
memproduksi komponen kendaraan. Di tahun 2011 bulan Februari kami bekerjasama
dengan PT. Dharma Polypast memproduksi sparepartelectronics.Di
bulan September kami beroperasi di lokasi baru yang berlokasi di Citeureup,
Bogor. Di bulan Oktober mendapatkan sertifikat dari ISO 9001 : 2008.
Di
tahun 2013 bulan Januari kami bekerja sama dengan PT. Meiwa Indonesia. Di bulan
Februari bekerjasama dengan PT. Frina Lestari Nusantara.
2.2.2. Struktur
Organisasi PT. ARGATAMA MULTI AGUNG
Direktur Utama : Agus Rusnawan
Plant Manager : Emul Purnawan
HRD GA : Bagja Wiwaha
Marketing : Asep
Engineering : Rudi Hidayat
PPIC : Emul Purnawan
Produksi : Dadan Iskandar
Turet : Edi Suprianto
Welding : Tatang. S
Assembling : Aceng H.
2.2.3. Kegiatan
Perusahaan
PT.
ARGATAMA MULTI AGUNG sebagai perusahaan industri stamping, produksi spare partotomotifdan
elektronik bertujuan menjadi yang terbaik dibidangnya dengan memproduksi,
mendistribusikan komponen yang bermutu, menjamin kepuasan pelanggan serta
pelayanan prima.
BAB
III
KEGIATAN
SELAMA PRAKERIN
QUALITY CONTROL
3.1. Jenis
Kegiatan PRAKERIN
Selama
melaksanakan kegiatan Praktik Kerja Industri (PRAKERIN) di PT. ARGATAMA MULTI
AGUNG selama dua bulan mulai dari tanggal 04 April 2013 sampai dengan 04 Juni
2013, banyak hal baru bagi siswa untuk dijadikan sebuah ilmu. Setelah
melaksanakan kegiatan sebagai berikut :
a.
5S (seiri,seiton,seiso,seiketsu,seitsuke)
b.
Mengecek
Bar Seat Lock
c.
Mengecek
Hinge seat
3.2. Pembahasan
PRAKERIN
a.
5S (seiri,seiton,seiso,seiketsu,seitsuke)
Gambar 3.1. Pola 5S
5S adalah suatu metode penataan dan pemeliharaan wilayah kerja secara intensif yang
berasal dari Jepang yang digunakan oleh manajemen dalam usaha memelihara ketertiban, efisiensi, dan disiplin di
lokasi kerja sekaligus meningkatan kinerja perusahaan secara
menyeluruh.Penerapan 5S umumnya diberlakukan bersamaan dengan penerapan kaizen agar dapat mendorong efektivitas pelaksanaan 5S.Di Indonesiametode ini dikenal dengan istilah 5R, sedangkan di Amerika dan Eropa dikenal dengan 5C.
Isi dari 5S antara
lain :
1.
整理 (seiri), Ringkas, merupakan kegiatan
menyingkirkan barang-barang yang tidak diperlukan sehingga segala barang yang
ada di lokasi kerja hanya barang yang benar-benar dibutuhkan dalam aktivitas
kerja.
2.
整頓 (seiton), Rapi, segala sesuatu harus
diletakkan sesuai posisi yang ditetapkan sehingga siap digunakan pada saat
diperlukan.
3.
清楚 (seiso), Resik, merupakan kegiatan
membersihkan peralatan dan daerah kerja sehingga segala peralatan kerja tetap
terjaga dalam kondisi yang baik.
4.
清潔 (seiketsu), Rawat, merupakan kegiatan
menjaga kebersihan pribadi sekaligus mematuhi ketiga tahap sebelumnya.
5.
躾け (shitsuke), Rajin, yaitu pemeliharaan
kedisiplinan pribadi masing-masing pekerja dalam menjalankan seluruh tahap 5S.
Penerapan 5S harus
dilaksanakan secara bertahap sesuai urutannya. Jika tahap pertama (seiri)
tidak dilakukan dengan baik, maka tahap berikutnya pun tidak akan dapat
dijalankan secara maksimal, dan seterusnya.
c. Mengecek
Bar Seat Lock
Gambar 3.2. Bar
seat lock
Bar
Seat Lock adalah dudukan Jok untuk Motor. Untuk Mengecek Bar Seat Lock harus menggunakan Jig
dan Flat. Jig dan Flatini biasanya berbentuk Kotak dengan
lubang di tengah, supaya Bar Seat Lock
bisa masuk dan sekaligus bisa di check.
d. Mengecek Hinge Seat
Hinge
adalah dudukan Jok Motor. Sama halnya dengan Bar Seat Lock, Hinge Seat ini perlu alat khusus untuk mengeceknya.
Alat tersebut adalah Jig, Jig ini berbeda dengan jig yang di
gunakan untuk mengecek bar seat lock. Jig
yang di gunakan untuk Hinge seat
ini memiliki Pinset untuk mengecek lubang diameter hinge seat.
3.3. Pembahasan
Dari
keterangan diatas dapat dijelaskan bahwa kegiatan selama PRAKERIN di PT.
ARGATAMA MULTI AGUNG ini adalah penulis mendapat pengalaman yang lebih,
terutama di bagian QUALTY CONTROL.
Dalam
hal ini banyak sekali hal yang harus diperbaiki, baik dari kepribadian maupun
dari segi pengetahuan.Maka dari itu penulis harus benar-benar menerapkan
kepribadian yang penuh disiplin, taat pada aturan baik aturan yang tertulis
ataupun tidak tertulis. Ilmu yang penulis dapatkan dari PRAKERIN ini sangat
membantu, karena masih banyak yang belum diketahui tentang PO, karena setiap
proses pengerjaan permasalahannya selalu berbeda.
Dengan
adanya PRAKERIN mudah-mudahan dapat menjadi suatu gerakan terhadap anak bangsa,
karena bangsa Indonesia sedang terpuruk, rakyat miskin tidak berkurang malah
semakin bertambah, setiap tahun pengangguran terus melonjak ke level di bawah
garis standar.
Semoga
permasalahan yang sekarang kita hadapi dapat terselesaikan, dengan melahirkan
anak bangsa yang cerdas serta berwawasan luas juga cinta dan peduli sesama
manusia dengan adanya Sekolah Menengah Kejuruan yang dapat melahirkan para
wirausahawan yang dapat menolong ekonomi rakyat Indonesia.
3.4. Manfaat
Bagi Siswa
Adapun manfaat
yang didapat dari hasil PRAKERIN antara lain :
a.
Siswa
atau siswi dapat mengetahui bagaimana keadaan di dunia industri yang penuh
dengan aturan. Karena itu akan membawa kebiasaan yang baik untuk diterapkan di
lingkungan masyarakat ataupun di dunia kerja.
b.
Menambah
wawasan terhadap peserta PRAKERIN untuk melengkapi kekurangan, karena tidak
semua sekolah mempunyai fasilitas praktik yang cukup lengkap dan staf pengajar
yang memenuhi standar pendidikan untuk SMK.
c.
Dapat
merubah pola pikir yang dapat membawa hidup untuk sukses di masa depan.
d.
Memperkuat
mental seorang calon pendiri usaha karena seorang kewirausahawan harus
mempunyai mental yang kuat dan penuh percaya diri terhadap usaha yang akan
dijalankannya. Ini didapatkan dari PRAKERIN.
e.
Mengetahui
bagaimana cara bersosialisasi dengan karyawan dan staf yang lainnya.
BAB
IV
UJI
KOMPETENSI
MEMONITOR DAN MENDATA KONDISI PERALATAN
4.1. Memonitor
dan Mendata Kondisi Peralatan
Memonitor dan mendata kondisi peralatan
biasanya disebut dengan Prefentive
Maintenance. Adapun pengertian dari Prefentive
Maintenance itu sendiri sebagai berikut.
NO.
|
NAMA BARANG
|
KONDISI ALAT
|
KETERANGAN
(Gambar)
|
1.
|
Jangka
Sorong
|
Baik
|
|
2.
|
Mikrometer
Sekrup
|
Baik
|
|
3.
|
Mall
Ulir
|
Baik
|
|
4.
|
Bevel Protector
|
Baik
|
Gambar 4.1.
Contoh Pengecekan dan Pendataan kondisi peralatan
4.1.1. Pengertian
Prefentive Maintenance
Preventive
maintenance adalah
suatu pengamatan secara sistematik disertai analisis teknis-ekonomis untuk
menjamin berfungsinya suatu peralatan produksi dan memperpanjang umur peralatan
yang bersangkutan.Tujuan preventive
maintenanceadalah untuk dapat mencapai suatu tingkat pemeliharaan terhadap
semua peralatan produksi agar diperoleh suatu kualitas produk yang optimum.
Adapun kegiatan Preventive Maintenance
meliputi:
1.
Inspeksi
(inspection), adalah kegiatan
pemeliharaan periodik untuk memeriksa kondisi komponen peralatan peralatan
produksi dan area sekitar peralatan produksi. Lihat, rasa, dengar, adalah
kegiatan pemeliharaan untuk memeriksa kondisi peralatan melalui penglihatan,
perasaan dan pendengaran.
2.
Pemeliharaan
berjalan (running maintenance),
adalah kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan tanpa mengehentikan kerja
peralatan.
3.
Penggantian
komponen kecil (small repair), adalah
kegiatan pemeliharaan yang berupa penggantian komponen kecil.
4.
Pemeliharaan berhenti (shutdown maintenance), adalah pemeliharaan yang dapat dilakukan
hanya pada saat peralatan produksi berhenti.
Gambar 4.2. Pola
Maintenance
Dengan
memanfaatkan prosedur maintenance yang
baik, dimana terjadi koordinasi yang baik antara bagian produksi dan maintenance maka akan diperoleh:
a. Kuantitas Stop peralatan produksi dapat
dikurangi (down time peralatan
produksi diperkecil)
b. Biaya perbaikan yang mahal dapat di kurangi
c. Interupsi terhadap jadwal yang direncakan
waktu produsi maupun pemeliharaan dapat dihilangkan atau dikurangi
Salah satu dari tujuan Preventive Maintenanceadalah untuk menemukan suatu tingkat keadaan
yang menunjukan gejala kerusakan sebelum alat-alat tersebut mengalami kerusakan
fatal. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan membuat perencanaan dan penjadwalan
kegiatan maintenance dengan interupsi
sekecil mungkin terhadap proses produksi.
Pada dasarnya tidak cukup hanya dengan membuat
perencanaan penjadwalan (scheduled
maintenance) yang matang akan tetapi perlu diperhatikan usaha-usaha untuk
memusatkan perhatian pada unit-unit peralatan produksi yang dianggap rawan dan
kritis. Suatu kualifikasi terhadap unit
yang rawan didasarkan pada:
1. Kerusakan pada unit tersebut dapat
membahayakan kesehatan atau keselamatan kerja.
2. Kerusakan dapat mempengaruhi jalannya proses
produksi dan kualitas produk.
3. Kerusakan dapat menyebabkan proses produksi
terhenti.
4. Modal yang tertanam pada unit tersebut
dinilai cukup tinggi.
Untuk memelihara atau memeriksa seluruh unit secara ketat
dan teratur hanya sekedar menghilangkan kemungkinan kerusakan pada peralatan
produksi adalah suatu usaha yang tidak praktis karena memerlukan
manusia-manusia dengan persyaratan tinggi dan biaya yang tidak sedikit.Akibat
bentuk dan saat terjadinya gangguan sangat sulit untuk diperkirakan secara
dini, maka pemeliharaan perlu dilakukan secara teratur dan periodik dari waktu
ke waktu terhadap semua unit instalasi. Untuk melakukan hal tersebut maka
dibutuhkan usaha-usaha pemeliharaan yang antara lain meliputi :
1. Pemeliharaan rutin
2. Pemeliharaan (sifatnya perbaikan)
kecil/medium
3. Bongkar seluruhnya (overhaul)
Pemeliharaan
rutin adalah usaha pemeliharaan terhadap unit-unit instalasi yang dilakukan
secara rutin dan periodik dengan interval waktu pelaksanaan yang tetap dan
singkat.
Jenis pekerjaan yang termasuk dalam pemeliharaan rutin pada dasarnya
adalah usaha pemeliharaan yang dilakukan tanpa melelui proses pembongkaran.
Bentuk pekerjaan dalam pemeliharaan rutin antara lain adalah:
a. Inspeksi rutin adalah merupakan peninjauan secara visual terhadap
kondisi fisik komponen dari unit instalasi peralatan produksi.Pekerjaan ini
biasanya dilakukan secara rutin setiap satu hari sampai satu minggu sekali,
tergantung kebutuhan.
b. Pengetesan rutin, merupakan usaha untuk mengatur atau
memantau kondisi kerja suatu komponen sacara rutin agar komponen dapat
diusahakan untuk beroperasi pada kondisi normal.
Kegiatan-kegiatan yang umum dilakukan dalam
pemeliharaan rutin misalnya :
a.
Memeriksa
fungsi dari mekanisme komponen
b.
Memeriksa
dan menyetel (adjustment)
c.
Membersihkan
d.
Mengencangkan
bagian-bagian yang kendur
Pemeliharaan kecil/medium adalah usaha
perbaikan-perbaikan ringan terhadap gejala gangguan yang berhasil terdeteksi
selama pemeriksaan rutin. Perbaikan ringan sangat penting peranannya dalam
mencapai tingkat keberhasilan proses pemeliharaan yang dilakukan terhadap suatu
komponen unit instalasi.
Kegiatan
Overhaul pada mesin biasanya
dilakukan secara periodik dan sangat teratur serta mempunyai konsentrasi dan
perhatian yang lebih dibanding pemeriksaan rutin dan pemeliharaan kecil.Pada
kegiatan ini dilakukan pembongkaran mesin untuk mengecek kondisi komponen mesin
secara menyeluruh dimana dimaksudkan untuk mengetahui kemungkinan kerusakan
yang terjadi pada mesin yang tidak dapat diketahui hanya dengan pemeriksaan
rutin. Contoh kegiatan seperti ini misalnya pada penggantian batu tahan api di
tanur/kiln pabrik semen.
Disamping
dilakukan pemeliharaan dengan perencanaan dan penjadwalan yang matang, didalampreventive maintenance dikenal pula
kegiatan yang sering disebut dengan pemeliharaan prediktif (predictive maintenance) yang dapat
diartikan sebagai strategi pemeliharaan dimana pelaksanaannya didasarkan pada
kondisi peralatan produksi itu sendiri
Mengingat tingkat kepastian 100% tidak pernah ada maka orang lebih suka menggunakan istilah prediksi atau perkiraan untuk memastikan pendapatnya.Dalam menduga-duga inipun pada dasarnya dibutuhkan dukungan data dan pengetahuan yang cukup mendalam tentang perilaku dari peralatan produksi yang diamati.
Beberapa
contoh dukungan pengetahuan yang
diperlukan untuk mengantisipasi keadaan ini antara lain :
a.
Penguasaan
prinsip kerja alat yang bersangkutan.
b.
Penguasaan
karakteristik alat.
c.
Pengalaman
pengoperasian alat yang sama di masa lalu baik oleh diri sendiri maupun orang
lain.
d.
Penguasaan
dan pengambilan data yang tepat.
e.
Penguasaan
pengolahan data.
f.
Kemampuan
mengkorelasikan antara satu kejadian dengan kejadian lain dalam kaitannya
dengan bidang maintenance.
g.
Berwawasan
luas dalam bidang peralatan produksi kaitannya dengan kemajuan teknologi.
Seperti
telah diketahui, preventive maintenanceberfungsi
menangani langsung hal-hal yang bersifat mencegah terjadinya kerusakan pada
fasilitas-fasilitas yang dilakukan dengan jalan memeriksa alat/fasilitas secara
teratur dan berkala serta memperbaiki kerusakan kecil yang dijumpai selama
pemeriksaan.Bagaimanapun baiknya kondisi suatu peralatan produksi yang telah
direncanakan, keausan dan kerusakan selama pemakaian pada umumnya masih dapat
terjadi, namun demikian laju keausan dan kerusakan ini masih dapat diperkirakan
besarnya bila peralatan produksi/alat dipakai dalam kondisi normal.
Khususnya dalam
bidang peralatan listrik dan elektronika sering diperingatkan bahwa
kerusakan-kerusakan komponen listrik adalah bahaya yang selalu mangancam
sehingga tidak ada alat/instrument yang dapat memeriksa dan mengukur terhadap
kerusakan komponen secara detail.Yang umum dilakukan dalam Praktik, contohnya
adalah mengganti semua bola lampu listrik dalam waktu tertentu, jadi tidak
menggantinya satu persatu setelah bola lampu tersebut padam. Hal yang sama juga
pada dilakukan pada menggantian bearing pada peralatan produksi.
Contoh diatas
adalah contoh kasus dari pendekatan predictive
maintenance.Predictive maintenance
juga merupakan suatu teknik yang banyak dipakai dalam cara produksi berantai
dimana bila ada gangguan darurat sedikit saja pada sistem produksi tersebut
akan mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Seperti misalnya sistem produksi
dengan sistem inline process, apabila
proses produksi tersebut terhenti karena kerusakan yang terjadi pada inline process tersebut maka dapat
dibayangkan kegagalan produksi yang terjadi.
Gambar
4.4.Pola Planned Maintenance
Jadi Predictive maintenance adalah merupakan bentuk baru dari Planned Maintenance dimana penggantian
komponen/suku cadang dilakukan lebih awal dari waktu terjadinya kerusakan.
Untuk membantu melaksanakan predictive
maintenanceterdapat suatu diagram analisa predictive yang sering digunakan
yang mengacu pada kondisi peralatan produksi besangkutan. Diagram analisa ini
sering dikenal dengan instilah Bath Tube
Curve karena grafik yang dihasilkan yang menyerupai bak mandi.
Gambar
4.4. Diagram Analisa Predictive
Pada diagram
analisa tersebut dibagi menjadi 3 phase
lifetime dari suatu peralatan produksi. PhaseI
atau sering juga disebut dengan early
failure karena pada phase ini
peralatan produksi dalam kondisi running in/masih baru (penyesuaian) dan
pertama kali dioperasikan maka permukaan kerja (working surface) dari peralatan produksi masih kasar.Pada kondisi
ini terdapat proses penghalusan permukaan tersebut karena terjadinya kontak
kerja permukaan. Setelah melewati phase ini, karena permukaan bidang kerja
sudah halus maka tingkat kontak kerja permukaan juga sudah menurun karena
permukaan kerja peralatan produksi sudah pada kondisi stabil. Phase II ini dikenal sebagai useful life-period. Pada periode inilah
yang akan menentukan umur peralatan produksi sebenarnya. Karena permukaan
bidang kerja mempunyai lapisan kekerasan dengan ketebalan yang terbatas maka
bila lapisan keras ini sudah habis terkikis maka laju keausan/kerusakan akan
meningkat kembali.
Hal ini akan berlangsung selama phase III yang dikenal sebagai periode keausan cepat (wearing out period).
Pada contoh kasus penggantian bearing peralatan produksi,
dengan mengacu pada diagram analisa predictive
tersebut maka penggantian sebaiknya dilakukan sebelum phase III atau menjelang phase
II berakhir dengan demikian kondisi bearing tidak sampai rusak parah sehingga
kerusakan pada peralatan produksi yang fatal akibat hancurnya bearing dapat dihindari dan tidak
merambat pada komponen yang lain sehingga terhentinya proses produksi yang lama
dapat dicegah.
Dalam predictive
maintenance terdapat beberapa metode dalam mamantau atau monitoring kondisi dari suatu peralatan
produksi, antara lain :
1.
Monitoring minyak pelumas Dengan cara mengambil sample oli dari peralatan produksi untuk
mengecek kekentalannya atau melihat kuantitas oli yang masih tersimpan di
tangki oli sesuai dengan anjuran dari manual
book mesin merupakan cara-cara untuk monitoring
minyak pelumas.
2.
Monitoring Visual Metode ini menggunakan panca indera yang meliputi
lihat, rasa, dengar guna mengetahui kondisi mesin. Untuk lebih akurat bisanya
digunakan alat Bantu.
3.
Monitoring kinerja Merupakan teknik monitoring kondisi peralatan produksi dengan cara memeriksa dan
mengukur parameter kinerja dan kemudian dibandingkan dengan standarnya.
4.
Monitoring Geometris Diharapkan penyimpangan geometris yang terjadi
pada peralatan produksi dapat diketahui dan kemudian dilakukan kegiatan
meliputi pengukuran leveling dan
pengukuran posisi (alignment).
5. Monitoring getaran Monitoring
ini memeriksa dan mengukur letak getaran secara rutin dan terus menerus
sehingga getaran yang akan mengakibatkan kerusakan peralatan produksi lebih
lanjut dapat dicegah.
4.1.2. Historical
record
pada Preventive maintenance
Pencatatan riwayat peralatan produksi yang dirawat perlu dilakukan untuk memantau perkembangan dan kondisi peralatan produksi dari waktu ke waktu. Adapun tujuan pencatatan riwayat peralatan produksi secara umum adalah :
1.
Preventive maintenance dengan historical
record yang baik akan menghasilkan kerja yang lebih efektif karena kondisi
peralatan produksi dapat termonitor.
2.
Bila
menggunakan metode inspeksi dengan program-program yang ketat akan mengasilkan
hasil yang baik dengan biaya relative cukup murah dibandingkan dengan nilai
perbaikan dari sebuah kerusakan yang terjadi.
3.
Siklus
Overhaul peralatan produksi dapat
diprakirakan dengan baik bila data historical
record diperoleh dengan lengkap.
4.
Usaha
untuk memperpanjang siklus overhaulakan
berhasil bila data dari historical record
lebih ketat.
5. Makin akurat penentuan diagnosis kerusakan
pada peralatan produksi maka biaya preventive
maintenance semakin ekonomik.
4.1.3. Keuntungan dan Kerugian Preventive maintenance
Keuntungan dari preventive maintenance antara lain :
1. Preventive
maintenance bersifat antisipasif, oleh
karenanya bagian produksi maupun bagian maintenance
seharusnya dapat melakukan prakiraan dan penjadwalan produksi yang baik.
2.
Preventive maintenance dapat meminimumkan waktu berhentinya
peralatan produksi (down time).
3.
Preventive maintenance dapat meningkatkan mutu pengendalian suku
cadang.
4.
Preventive maintenance dapat menurunkan tingkat kegiatan pekerjaan
yang bersifat darurat.
Kerugian dari Preventive maintenance adalah dapat terjadi pemborosan suku cadang
bila penggantian suku-suku cadang dilakukan sebelum rusak.
Dari
berhasilnya program preventive
maintenance yang baik maka perlu dikembangkan hal-hal sebagai berikut :
1. Suatu paket pencatatan (historical record) data maintenance
yang baik.
2. Adanya pengertian yang saling menunjang
antara bagian produksi dan bagian maintenance.
3. Para teknisi maintenance menunjukkan kemampuannya sebagai pekerja yang baik.
4. Memiliki program inspeksi yang baik.
5. Memiliki program perbaikan yang korektif.
6. Preventive
maintenance memiliki sistem
administrasi yang baik.
BAB
V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
5.1.1. Kesimpulan
PRAKERIN di PT. ARGATAMA MULTI AGUNG
Hasil Praktik kerja industri selama dua
bulan di PT. ARGATAMA MULTI AGUNG. Penulis dapat menarik kesimpulan bahwa Praktik
kerja industri ini merupakan suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian
professional yang memadukan secara sistematik antara program keahlian
pendidikan di sekolah dengan program keahlian yang diperoleh melalui kegiatan
langsung di dunia kerja. Adapun tujuan diadakannya Praktik kerja industri ini
adalah untuk menambah wawasan para siswa agar mempunyai pengalaman bekerja di
dunia industri.
Isi dalam laporan ini disajikan
sesuai dengan kegiatan yang penulis telah laksanakan di PT. ARGATAMA MULTI
AGUNG.Sesuai dengan namanya ini merupakan industri yang bergerak di bidang otomotif.
Dengan itu penulis mendapatkan
pengalaman yang sangat berharga di bidang Quality
Control. Sehingga pengalaman tersebut bisa dijadikan bahan pembelajaran
untuk menyiasati persaingan yang ketat di dunia industri.
Kesan dari penulis dalam
melaksanakan kegiatan PRAKERIN di PT. ARGATAMA MULTI AGUNG selama dua bulan adalah
:
1.
Siswa
– siswi SMK GALILEO disambut dan dibimbing dengan baik oleh PT. ARGATAMA MULTI
AGUNG. Kondisi bangunan yang bersih memberikan kenyamanan bagi penulis dalam
melaksanakan kegiatan PRAKERIN.
2.
Keakraban
siswa – siswi SMK GALILEO dengan karyawan dan staf pegawai di PT. ARGATAMA
MULTI AGUNG dapat mengurangi rasa jenuh.
3.
Ketepatan
waktu kerja dapat melatih kedisiplinan terutama bagi penulis sendiri.
4.
Keamanan
kerja selalu diperhatikan oleh pihak PT. ARGATAMA MULTI AGUNG
5.1.2. Kesimpulan
Uji Kompetensi
Dasar kompetensi sekaligus memahami maksud
dan kegunaan kompetensi tersebut.Dengan itu penulis mendapatkan pengalaman yang
sangat berharga.Sehingga pengalaman tersebut bisa dijadikan bahan pembelajaran
untuk menyiasati persaingan yang ketat di dunia usaha/industri karena
perkembangan teknologi yang sangat pesat dan kebutuhan di dunia usaha/industri
dengan adanya uji kompetensi diharapkan siswa mempunyai pengetahuan yang lebih
tentang kompetensi yang didapatnya.
5.1.3. Saran
dan Kritik
Saran yang penulis sampaikan kepada PT. ARGATAMA MULTI
AGUNG diantaranya adalah :
1.
Pihak
perusahaan harus lebih baik lagi dalam memberikan pelayanan kepada konsumen
2.
Disiplin
karyawan lebih baik diperhatikan agar tidak pernah menurun.
3.
Kebersihan
area harus diperhatikan juga karena merupakan cermin kerapian dan kenyamanan
perusahaan.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim.
2000. Kesehatan dan keselamatan kerja, bogor:Yudistira
Anonim.
2004. Garansi Dan Servis. Yogyakarta: Sumber Baru Motor
http://maintenance-group.blogspot.com/2010/09/preventive-maintenance_27.html
Diunggah
pada 13 Mei 2014, 17.00 WIB
http://en.wikipedia.org/wiki/5S_%28methodology%29
Diunggah
pada 13 Mei 2014, 17.00 WIB
http://en.wikipedia.org/wiki/Bar_Seat_Lock_lock
Diunggah
pada 13 Mei 2014, 17.00 WIB

Tidak ada komentar:
Posting Komentar